Wajah WKRI …

23/04/2013

Rm. HC Heru Purnomo, Pr

Ada yang istimewa pada pertemuan anggota ranting Ungaran tgl.9 April 2013 yang lalu. Istimewa karena Rm HC Heru Purnomo, Pr memberi penyegaran dan penguatan (semangat) pada para anggota, yang agak  “nglokro” (patah semangat) karena banyaknya situasi yang terjadi di Paroki Ungaran akhir-akhir ini. Rm Heru membuka dengan membacakan pesan Bapa Paus Fransiskus tentang peranan perempuan dalam Gereja Katolik (selengkapnya baca disini). Sungguh, pesan Bapa Paus itu merupakan suatu hal yang amat membesarkan hati.

Bagaimana dengan wajah perempuan sekarang ini? Bagaimana dengan Wanita Katolik RI sekarang ini? Kilas balik, di th 70-an, kegiatan dalam pertemuan adalah pembicaraan seputar caos dhahar romo, baju liturgi, menata altar gereja, arisan dan simpan pinjam.  Jika sampai saat ini, 40-an tahun kemudian, para anggotanya masih berputar di masalah-masalah di atas, berarti tidak ada kemajuan sama sekali. Sejarah awal pembentukannya,  antara lain mengajar perempuan menjadi lebih pintar (menulis/membaca), menyadari peran dan fungsi diri (tidak sekedar berada di 3 tempat : pawon, pengaron dan peturon)  dan peduli dengan nasib kaumnya. Ketika menjadi institusi besar, keanggotaan makin besar, organisasi mengukuhkan diri sebagai ormas : organisasi kemasyarakatan, seharusnya juga diimbangi dengan bentuk kegiatan keluar. Acuannya begitu jelas : berazas Pancasila dan pembukaan UUD ’45 dan berlandaskan Ajaran Sosial Gereja. Maka perlu perwujudan visi misi dalam karya nyata.

Perwujudan itu bisa ke dalam (pemberdayaan anggota, pelatihan, pembekalan organisasi, kaderisasi, dll.) dan bisa ke luar melalui kemitraan dan berjejaring dengan institusi lain, kegiatan kemasyarakatan dan peduli lingkungan seperti ikut mengatasi gizi buruk, PPUK, napza, pendidikan anak jalanan, penyuluhan dan pencerdasan, kesehatan masyarakat, dll. Nilai injili mewarnai kegiatan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan tersebut : jadilah terang dan garam dunia melalui sikap, perkataan dan perilaku.

Mengapa Wanita Katolik RI tetap eksis?  Karena kepedulian yang konsisten terhadap kaum tertindas, dengan pelayanan yang berlandaskan  kasih tanpa pamrih.

Pertanyaan yang menggelitik adalah : benarkah Wanita Katolik RI adalah organisasi kaum senior (kalau tak mau dibilang tua)?  AD/ART menyatakan bahwa anggota berusia 18 tahun atau lebih. Kenyataannya, khususnya di Jawa Tengah, banyak yang baru masuk menjadi anggota organisasi setelah berusia 40th. Apakah sudah ada sosialisasi? Sudahkah memanggil dan mengundang wanita muda untuk menempa dan mengembangkan diri melalui organisasi ini? Apa yang bisa dilakukan,,,,, sementara kita semua tahu bahwa generasi berikut ditentukan oleh kualitas kaum perempuan? Sungguh, pertanyaan yang tak mudah dijawab. Persoalan yang tak mudah diurai. (wied yosef)


Wanita Katolik RI : Wadah Bagi Perempuan Katolik dalam Berorganisasi

25/04/2012

Selintas Perjuangan Panjang

Wanita Katolik Republik Indonesia terbentuk tgl.26 Juni 1924 di Yogyakarta atas prakarsa RA Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmosepoetro, didukung oleh Pastor Henri van Driessche, SJ. Kegiatan utamanya adalah mengajar membaca dan menulis serta berbagai ketrampilan kepada para ibu dan para buruh wanita. Awalnya bernama “Perkumpulan Ibu-ibu Katolik”. Perkumpulan ini mendapat sambutan baik dari para ibu katolik lainnya dan dari kalangan gereja, sehingga dapat berkembang pesat sampai kota Solo, kota-kota lain di Jawa, dan kemudian seiring dengan timbulnya kesadaran para ibu untuk membantu Gereja dan kaum lemah dan miskin, organisasi berkembang meluas ke seluruh pulau-pulau di Indonesia. Data terakhir, Wanita Katolik RI kini tercatat memiliki 72.479 anggota, terdiri dari 32 DPD, 585 Cabang, dan 1.954 Ranting (Laporan Konggres XVIII/2008).  Lewat perjuangan dan ketekunan para ibu, terutama para anggota di ranting-ranting yang menjadi ujung tombak, Wanita Katolik RI merupakan satu-satunya ormas  dari beberapa ormas Katolik (seperti PMKRI, Pemuda Katolik, ISKA, dll) yang kegiatannya tetap “heboh” karena terdengar sampai di paroki-paroki. (HIDUP, 8 Agustus 2010).

Di tingkat Cabang (kabupaten/kota/paroki) di Indonesia, Wanita Katolik RI menjadi   anggota GOW (Gabungan Organisasi Wanita) dan di tingkat propinsi menjadi anggota BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita). Di luar negeri Wanita Katolik RI pun tercatat sebagai anggota aktif WUCWO (World Union of Catholik Women’s Organisations) atau organisasi wanita katolik dunia. Wanita Katolik RI turut serta dalam Panitia HPS di KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), sehingga program kerja WKRI tentunya sejalan dengan Gereja. Disamping itu, sebagai ormas WKRI terdaftar dalam Badan KESBANGLINMAS (Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat) di tiap daerah dan sekaligus harus mengikuti perundangan ormas yang berlaku di Indonesia.  Status hukum WKRI adalah sebagai badan hukum yang disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. J.A.5/23/8 tanggal 5 Februari 1952. Bentuk : Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) sesuai ketentuan UU-RI no.8 th. 1985.  Sebagai ormas, Wanita Katolik RI juga mendapat pengakuan dari masyarakat sebagai ormas yang sangat bermanfaat keberadaannya, sejajar dengan ormas wanita lainnya seperti Kowani, Aisyah, Dharma Wanita, dll. (Jajak Pendapat Kompas/KOMPAS, 27 Feb 2012).

Wanita Katolik RI bukan organisasi politik, dan tidak pernah bergabung dengan Partai Katolik atau partai apapun, sejak berdiri sampai dengan saat ini. Dalam AD/ART Organisasi dinyatakan bahwa Visi Organisasi adalah organisasi kemasyarakatan wanita Katolik yang mandiri, memiliki kekuatan moral dan sosial yang handal, demi tercapainya kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat dan martabat manusia.  Implikasinya adalah organisasi harus terus  menegakkan dan menjaga kemandirian, agar terhindar dari hal-hal yang mungkin saja dapat melemahkan semangat perjuangan menuju cita-cita yang tertuang dalam visi tersebut  (KONTAK  Ed.13/Th IV/2012).

Perjalanan Wanita Katolik RI Ungaran

Wanita Katolik RI Ungaran dibentuk tgl.27 September 1964 oleh Ibu Corry Frederick dengan dukungan Ibu V. Sutandar dari DPP Wanita Katolik RI. Ibu-ibu yang ikut berjuang diantaranya Ibu Hien Darsono (alm), Ibu Any, Ibu Winarso, dll. Antara 1970an – 1982 Wanita Katolik RI tidak aktif, dan muncullah Persatuan Ibu-ibu Paroki Ungaran yang dirintis oleh Ibu Mardjuki dan diketuai oleh Ibu Ch. Suyati Suwardi. Tahun 1982 Ibu MS. Henny Sadewa merintis kembali Wanita Katolik RI di Ungaran dan melalui perjuangan yang panjang dan penuh rintangan, serta ketekunan dan dukungan luar biasa dari para anggota, kegiatan-kegiatan Wanita Katolik RI tetap dapat berjalan dengan baik. Saat ini anggota Wanita Katolik RI Ungaran yang mendaftar dan memiliki KTA (kartu tanda anggota) 357 orang. Sedangkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain : pertemuan rutin 1 bulan sekali,  kaderisasi, pelatihan dan pembekalan keorganisasian, pendidikan/ketrampilan, kerohanian (rekoleksi, renungan dari bacaan Kitab Suci, safari rosario, koor), kunjungan ke wilayah kerja, bakti sosial kepada masyarakat, simpan pinjam anggota, dll. Mulai th. 2008 dirintis pembuatan website WKRIUngaran, buletin BMW dan penggalangan Dana Abadi Ranting Ungaran.  Tahun 2010 menjadi titik balik eksistensi Wanita Katolik RI Ranting Ungaran. Dimulai dari penelusuran sejarah melalui diskusi dan kunjungan kepada sesepuh Wanita Katolik RI Ungaran, membedah visi misi organisasi dan pelatihan/pembekalan yang diikuti oleh perwakilan dari 21 wilayah kerja yang ada, hasil yang dicapai sungguh luar biasa. Anggota-anggota yang semakin memahami organisasi, memutuskan untuk mengembangkan Ranting Ungaran menjadi 2, yaitu Ranting (Kecamatan) Ungaran Barat dan Ranting (Kecamatan) Ungaran Timur. Hal ini sejalan dengan keputusan DPD (Dewan Pengurus Daerah) Jawa Tengah memakai jalur pemerintah pada th. 1993, yakni DPD Jawa Tengah (propinsi), DPC (cabang di kabupaten/kota) dan DPR (ranting di kecamatan). Cepat atau lambat, pengembangan ini harus dilakukan. Akhirnya, Rapat Anggota Ranting I tgl. 04 Desember 2011 mengukuhkan berdirinya kedua ranting baru tersebut.

WKRI dan Ibu-Ibu Paroki

Apa beda Wanita Katolik RI dan Paguyuban Ibu-ibu Lingkungan/Paroki?

Ibu-ibu paroki meliputi seluruh ibu-ibu/wanita dewasa yang berada dalam satu lingkup paroki tanpa terkecuali, sedangkan WKRI merupakan satu organisasi masyarakat yang menjadi wadah untuk para wanita katolik dewasa dengan ketentuan dan peraturan organisasi yang selain seturut dengan gereja, juga diatur oleh pemerintah dalam UU ormas. (Rm. HC Heru Purnomo, Pr – WARUNG SEGER 10/23 April/MMXII)

Ya!

Semua ibu-ibu di lingkungan yang ada di paroki – tanpa kecuali – adalah anggota Paguyuban Ibu-ibu Lingkungan/Paroki. Tidak perlu mendaftar. Keberadaan dan kegiatannya mengacu pada PPDP (Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki), dan mendukung visi/misi paroki.

Bagi ibu-ibu (tepatnya perempuan katolik berusia 18 tahun, baik sudah menikah atau masih lajang) yang ingin membaktikan diri dan membantu sesama (baik seiman maupun tidak) dan berkarya di masyarakat, sambil mengaktualisasi diri dalam organisasi, dapat mendaftar dan masuk menjadi anggota Wanita Katolik RI. Keberadaan dan acuannya adalah AD/ART Wanita Katolik RI, dengan juklak-juklaknya yang rinci, termasuk tata cara menjadi anggota, tertib administrasi, atribut organisasi (vandel, lencana, cap organisasi, pakaian seragam dan Kartu Tanda Anggota), pedoman pelaksanaan pertemuan anggota, dll. telah ada aturan dan ketentuan tersendiri yang ditetapkan organisasi.

Keberadaan Paguyuban Ibu-ibu Paroki dan ormas Wanita Katolik RI hendaknya dipelajari dan dipahami benar, sehingga tidak menimbulkan kerancuan. Keduanya dapat saling bekerja sama/kolaborasi dan saling melengkapi. Anggotanya bisa jadi orang yang sama, tetapi ’ladang garapan’ (kegiatan dan program kerja) berbeda. Contoh yang nyata, ibu-ibu lingkungan banyak yang juga aktif di PKK/RT, namun tetap dapat membedakan mana ranah lingkungan/paroki dan mana ranah PKK/RT/RW.

Wanita Katolik RI di DPD yang memakai jalur gerejani/keuskupan seperti DPD Purwokerto (di bawah Keuskupan Purwokerto), DPD Malang atau di Jakarta, memang sering rancu dan mungkin ada ’perebutan’ anggota atau kegiatan. Di Paroki Bojong, Jakarta Barat misalnya, Paguyuban Ibu-ibu Paroki tidak ada, karena WKRI rantingnya menjadi bagian dari tim kerja Paroki. Namun bagi yang memakai jalur pemerintahan seperti DPD Jawa Tengah, DIY atau Jawa Timur, seharusnya bisa serasi, dapat bekerjasama, karena jelas sekali adanya perbedaan acuan, visi misi dan program kerja. (wied yosef)


2010 in review

05/01/2011

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 2,500 times in 2010. That’s about 6 full 747s.

In 2010, there were 11 new posts, growing the total archive of this blog to 34 posts. There were 36 pictures uploaded, taking up a total of 46mb. That’s about 3 pictures per month.

The busiest day of the year was May 10th with 34 views. The most popular post that day was Tentang Kami.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were id.wordpress.com, search.conduit.com, google.co.id, webcache.googleusercontent.com, and wkriungaran.co.cc.

Some visitors came searching, mostly for logo wkri, logo wanita katolik, logo wanita katolik republik indonesia, rosario katolik, and pengrajin tas.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Tentang Kami December 2008
21 comments

2

Organisasi February 2009
4 comments

3

Etalase March 2009
6 comments

4

Kongres Wanita Katolik RI XVIII di Bali January 2009
4 comments

5

REKOLEKSI SEHARI DI LEMBAH KEMENANGAN August 2009


IBU DAN BUDAYA NILAI

10/12/2010

Dalam rangka memperingati hari ulangtahunnya yang ke-86 tahun 2010 ini, Wanita Katolik RI  mengusung suatu gerakan yang dikenal dengan Gerakan (melestarikan) Budaya Nilai dan Lingkungan Hidup. Gerakan ini dilandasi oleh keprihatinan terhadap krisis multidimensi dalam berbangsa dan bernegara di segala bidang, termasuk diantaranya dalam bidang moral, pendidikan, budaya dan agama serta lingkungan hidup.

Yang ingin dibahas di sini secara khusus adalah Budaya Nilai. Namun, apakah yang dimaksud dengan Budaya Nilai? Nilai mana yang dimaksud? Agak sulit mendefinisikan, tetapi mungkin penjelasan sederhananya yaitu moralitas yang baik sesuai dengan iman kristiani kita: kasih. Nilai inilah yang akan dikembangkan dan dilestarikan, sebagai langkah awal untuk melakukan perbaikan dalam karakter generasi muda, remaja dan anak-anak.

Meski pendidikan merupakan tanggung jawab orangtua, namun tidak bisa dipungkiri bahwa peran dan kasih seorang ibu menjadi lebih nyata dan amat berpengaruh dalam diri seorang anak. Dasar kepribadian anak dibentuk dalam sekolah kehidupan awal : yaitu ibu dan keluarga sebagai lingkungan pertama. Mendidik dengan baik anak-anak dalam keluarga kita sekarang ini, berarti kita mempersiapkan generasi pemimpin bangsa 30 – 40 tahun mendatang. Jadi jelas sekali bahwa peran strategis dalam melestarikan nilai-nilai yang baik, benar dan indah ada di dalam keluarga, khususnya kaum perempuan.

Jepang pernah hancur, baik secara fisik maupun mental. Rakyat Jepang berduka. Dalam gerakan yang kemudian dikenal sebagai (gerakan) ‘pendidikan mama’, para wanita Jepang, yang terkenal sebagai pekerja keras, ulet, setia, mengabdi pada keluarga, tampil. Mereka mendidik dengan baik anak-anak mereka. Dan dalam kurun waktu 20 tahun berikutnya, Jepang menjadi negara yang luar biasa maju di hampir segala bidang, dan memiliki generasi yang berkualitas unggul : pekerja keras, ulet, jujur, loyal, sportif dan berdedikasi tinggi.

Seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan termasuk anak bodoh di sekolahnya, pada suatu hari pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya membaca kertas tersebut: “Tommy, anak Ibu, sangat bodoh. Kami minta Ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah kami.” Sang ibu terhenyak membaca surat itu, namun ia segera membuat tekad yang teguh. “Anak saya Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.” Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang sebagai salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju. Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah itu akhirnya bisa menjadi seorang jenius? Siapa yang ada di balik semua ini? Jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja, dan terbukti ia memang benar.

Contoh lain yang bisa dikemukakan dalam kaitannya dengan peran seorang ibu adalah kasih Woo Kap Sun, ibu dari Hee Ah Lee – seorang pemain piano empat jari dari Korea, yang juga menderita cacat dan terbelakang mental. Dengan kasih sayang, kesabaran dan ketekunan, Woo Kap Sun melatih, mendidik, memotivasi dan menemani Ah Lee selama 10 jam latihan piano setiap hari. Kini Ah Lee menjadi suatu legenda, dan berhasil membuktikan bahwa apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang cacat ternyata mampu dilakukannya. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang : apa yang tidak mungkin di mata manusia, ternyata mungkin di mata Tuhan. Di balik semua ini, peranan Woo Kap Sun tidak dapat dikesampingkan. Kasih seorang ibu adalah pilar keberhasilan anaknya.

Dalam Kitab Suci, peran ibu ditunjukkan antara lain oleh teladan dan kasih Bunda Maria, yang sangat sentral dan total dalam mendampingi Putranya, Yesus Kristus. Kepasrahan dan imannya dalam menerima kenyataan dirinya mengandung saat belum bersuami (“terjadilah kepadaku menurut kehendakMu”) merupakan juga perkataan iman Yesus saat berada dalam keputusan penting di Taman Getzemani (“bukan kehendakKu, melainkan kehendakMu”).

Makin terlihat sangat jelas bahwa teladan, iman dan kasih seorang ibu akan tertanam menjadi sebuah karakter dan sikap mental dalam diri anak. Sikap atau nilai yang tertanam ini akan terus terbawa hingga dia menjadi dewasa. Kiranya dapat dipahami jika sisi penting peran kaum ibu ini dijadikan Wanita Katolik RI sebagai sebuah gerakan bersama-sama, yang akan merupakan suatu kekuatan moral yang luar biasa dan yang diharapkan perlahan namun pasti dapat mengubah moral bangsa menjadi lebih baik. Jika setiap ibu menemani putera puterinya dengan sabar, tekun dan penuh kasih, berkomunikasi dengan baik, kiranya dalam kurun waktu sekian tahun mendatang akan tercipta generasi yang tekun, disiplin, jujur, penuh iman dan kasih. Tentu ini tidak mudah. Mungkin juga akan ada banyak kendala dan hambatan yang timbul. Namun juga bukan hal yang tidak mungkin dilakukan.

Wanita Katolik RI sebagai kelompok minoritas yang kreatif, dengan nilai kasih yang berkualitas, memulai suatu gerakan bersama yang diharapkan akan menjadi suatu gerakan nyata. Mulai dari yang terdekat : keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitar. Gerakan yang bagai setetes air ini niscaya semakin lama akan membentuk lautan kasih yang dapat memiliki kekuatan luar biasa. (wied yosef, dari berbagai sumber)


Reksa Pastoral : KELUARGA MENATAP ERA GLOBALISASI

10/12/2010

Oleh : Rm. Paulus Supriya, Pr

Era Globalisasi berarti era masuk ke lingkup dunia. Peristiwa dengan segala perilakunya, entah yang baik maupun yang buruk, akan tersebar ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat dan mudah. Di satu sisi era ini bisa meningkatkan kesejahteraan hidup manusia, namun di sisi lain bisa menghancurkan manusia dan meradabannya.

Salah satu yang pantas dicermati adalah dampak bagi keluarga. Di satu pihak, keluarga-keluarga memang dikembangkan, namun di lain pihak keluarga-keluarga juga dibahayakan oleh era tersebut. Bagaimana keluarga harus menatap, mengenali dan menjalani era globalisasi?

Ancaman terhadap Keluarga

Era globalisasi senyatanya telah membawa informasi-informasi negatif. Dan informasi negatif ini tentu merupakan ancaman bagi keluarga. Informasi yang telah mengancam tersebut adalah sebagai berikut.

Ancaman bisa berasal dari pertama perundang-undangan yang tidak adil. Umpamanya undang-undang yang memudahkan perceraian atau menyuburkan budaya kematian. Atau tiadanya undang-undang dan kegagalan pemerintah memberlakukan undang-undang. Kedua faham atau pandangan yang tidak benar tentang keluarga. Umpamanya berkeluarga dipakai semata-mata untuk mencari kepuasan diri sendiri. Faham ini bisa merongrong konsep hidup keluarga dan makna persekutuan pria dan wanita. Ketiga situasi masyarakat yang buruk. Situasi ini bisa berupa kemiskinan dan penderitaan. Keempat ‘percobaan membangun keluarga’. hal ini bisa mengancam makna perkawinan, keluarga, keibuan dan kebapaan. Mereka hanya bersifat coba-coba dalam berkeluarga. Setelah tidak suka, mereka bercerai. Kelima gerakan feminisme ekstrim. Gerakan ini bermental anti keluarga, berideologi anti kehidupan dan tentu juga mengancam kehidupan keluarga. Keenam keutamaan manusiawi dan keluarga diganti dengan konsumerisme dan materialisme. Ketujuh situasi kependudukan. Jumlah penduduk maupun penyebarannya akan mempengaruhi situasi hidup keluarga.

Ini merupakan ancaman serius. Bila tidak segera disikapi, tidak mustahil keluarga-keluarga akan semakin mengalami ketidakpastian atau mengalami kondisi yang semakin buruk dari pada era sebelumnya.

 

Keluarga Menatap Era Globalisasi

Agar mampu menjalani hidup dalam era globalisasi, banyak keluarga di saat sekarang ini merapatkan barisan. Mereka semakin tekun mewujudnyatakan tanggung jawabnya dalam kehidupan sehari-hari.

Tanggung jawab yang harus semakin dibumikan itu adalah pertama mengembangkan daya dan gaya hidup (spiritualitas) perkawinan. Contohnya adalah pasutri semakin saling membaktikan diri satu sama lain, berkomunikasi yang jujur, bersedia saling mengampuni. Kedua menghayati keluarga sebagai ‘kenisah kehidupan’. Keluarga bertanggungjawab melindungi dan memelihara kehidupan dari pembuahan sampai kematian alami. Perlindungan dan pemeliharaan ini bisa terwujud dengan menjadi orangtua yang bertanggungjawab. Ketiga tanggung jawab sosial. Banyak keluarga sekarang ini ikut ambil tanggung jawab sosial terhadap keluarga yang lain. Contohnya solider dengan keluarga miskin atau yang sedang menanggung beban hidup (kecanduan obat bius, dsb.). Keempat keluarga bertanggungjawab atas keputusan politis negara. Umpamanya banyak keluarga ikut memperhatikan keputusan sosial dan politis untuk peningkatan kesejahteraan keluarga-keluarga miskin.

 

Penutup

Menatap era globalisasi, keluarga-keluarga tidak perlu pesimis. Tuhan menyelenggarakan hidup dan perjuangan keluarga. Ia tidak akan pernah meninggalkan keluarga-keluarga dalam kesedihan maupun kegembiraan.

Karena imannya, sekarang ini banyak sekali keluarga yang tetap sadar akan potensi keluarganya yang patut dihormati dan diperkembangkan. Sekarang ini banyak keluarga memiliki komitmen yang tinggi atas kesejahteraan keluarganya sendiri maupun keluarga orang lain. Dan banyak keluarga mau mendirikan asosiasi dan membangun kerja sama dengan lembaga-lembaga lain (LSM “Pro life”, gerakan kerasulan, lembaga swadaya pemerhati keluarga, baik lokal, nasional maupun internasional).

Sekali lagi, keluarga-keluarga perlu merapatkan barisan untuk lebih tekun mewujudnyatakan nilai-nilai keluarga dan menjalin kerjasama dengan berbagai keluarga maupun lembaga lain. Dan yang utama adalah semakin berani menyerahkan keluarga pada penyelenggaraan Tuhan. Tuhan adalah Tuhan keluarga. Hidup Keluarga Era Globalisasi!


ANTARA HUT WANITA KATOLIK RI RANTING UNGARAN KE-47 DAN VISI MISI ORGANISASI

10/12/2010

Oleh : Niniek Pudji Asmono, Ketua Bidang Organisasi

Dalam rangka memperingati HUT Wanita Katolik RI Ranting Ungaran ke-47, Bidang Kesejahteraan telah mengadakan kunjungan kepada ibu-ibu jompo dan sakit – yang tidak aktif lagi, pada tanggal 20 s/d 24 September 2010.  Sementara itu Bidang Organisasi mengadakan sosialisasi Visi dan Misi Wanita Katolik RI dengan menghadirkan ibu AMC Tri Handajani Tjiptoprajitno, mantan Ketua Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang, pada tanggal 6 Oktober 2010 pada saat pertemuan anggota, di Ruang Pertemuan Gereja Kristus Raja Ungaran.

Kedua kegiatan di atas kalau dilihat secara kasat mata mungkin hanya sekedar menjalankan rencana kegiatan yang telah dipersiapkan selama satu tahun. Kita kadang tidak menyadari bahwa dari kegiatan yang sederhana dapat ditarik benang merah nilai dari kegiatan tersebut. Kita mudah terjebak membuat kegiatan tanpa memberikan nilai dari kegiatan tersebut. Padahal jika jeli, semua aktivitas organisasi dapat kita berikan tambahan nilai sebagai perwujudan visi dan misi organisasi, dan bukan sekedar beraktivitas agar suatu organisasi Nampak berkegiatan.

Wanita Katolik RI sebagai organisasi massa, tentu punya tujuan, cita-cita, sasaran atau target. VISI adalah sebuah tujuan dari sesuatu yang ingin dicapai. Cita-cita yang ingin diraih. Sesuai dengan AD/ART bab III ps.6, VISI : Organisasi kemasyarakatan wanita Katolik yang mandiri, memiliki kekuatan moral yang handal, demi tercapainya kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat dan martabat manusia. Dan ini diimplementasikan sebagai organisasi kemasyarakatan perempuan katolik yang berjuang untuk manusia (agama apapun), termasuk orang-orang yang bukan katolik.

MISI adalah sarana atau alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bab III ps.7 tentang MISI :

  1. Memberdayakan seluruh jajaran Wanita Katolik RI mulai dari unit yang terkecil. (Ranting sebagai ujung tombak diberdayakan secara maksimal dengan segala potensi yang ada)
  2. Meningkatkan kualitas hidupnya nilai-nilai Injil dan Ajaran Sosial Gereja di dalam Wanita Katolik RI. (Misalnya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan kerohanian)
  3. Meningkatkan kualitas kehidupan berdasarkan keadilan sosial. (Adil tidak harus sama, dapat didasarkan pada kebutuhan yang ada)
  4. Memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender dalam semua aspek kehidupan. (Misalnya seorang ibu rumah tangga tetap memiliki hak suara yang sama dengan anggota keluarga lainnya)

Dalam mendukung MISI ini, Wanita Katolik RI memiliki bidang-bidang, seperti :

  1. Bidang Organisasi
  2. Bidang Kesejahteraan
  3. Bidang Pendidikan
  4. Bidang Hubungan Masyarakat
  5. Bidang Usaha

Bidang-bidang ini bersinergi dan saling bekerjasama dalam satu tingkatan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan tersebut. Dengan demikian, para wanita katolik Indonesia diharapkan :

  1. dapat menjadi warga Gereja
  2. mampu menjadi warga masyarakat yang bertanggung jawab.

SANTA ANNA

19/08/2010

Ibu Anna, sejak pernikahannya dengan Bapak Yoakim, tak berhenti-hentinya mengharapkan karunia Tuhan, yaitu seorang anak. Dari tahun ke tahun mereka berdua berziarah dan berdoa ke Bait Allah di Yerusalem. Ibu Anna berjanji, bila dikaruniai anak maka ia akan mempersembahkannya kepada Tuhan. Setelah menunggu selama 50 tahun, akhirnya pada suatu hari datanglah malaikat Gabriel membawa berita gembira bahwa doa mereka didengarkan Tuhan, dan mereka akan dikaruniai seorang anak perempuan yang akan membawa sukacita bagi seluruh dunia. Puteri mereka diberi nama Maria, dan kelak dipilih Allah untuk menjadi Ibu Tuhan Yesus Kristus, Juru selamat umat manusia. Anna dalam bahasa Ibrani artinya : Tuhan berbelas kasih. St. Anna adalah pelindung orang tua yang mempunyai tugas penting, yaitu membesarkan anak-anak yang telah dilahirkan dan dipercayakan kepada mereka. Gereja merayakan pesta St. Anna setiap tgl. 26 Juli.

Organisasi kita Wanita Katolik RI menetapkan St. Anna sebagai Santa Pelindung pada Kongres ke-2 Wanita Katolik RI th 1954 di Yogyakarta. (wied yosef)

DOA WANITA KATOLIK RI KEPADA SANTA ANNA

Santa Anna, dengan hati penuh hormat kami datang kepadamu. Engkau wanita yang diutamakan dan dicintai secara istimewa oleh Allah.

Kepadamu Allah berkenan menganugerahkan rahmat, boleh memberi kehidupan kepada bendahara rahmat, tokoh yang Terberkati diantara segala wanita, Bunda Sabda yang menjadi manusia Perawan yang tersuci Maria.

Santa Anna, kami menyerahkan secara khusus organisasi kami Wanita Katolik Republik Indonesia di bawah perlindunganmu.

Berilah kami, para anggota, semangat agar selalu siap sedia memberi kesaksian tentang Yesus Kristus dalam pengalaman cinta kasih.

Perolehlah bagi kami cinta yang hidup dan berkobar kepada Yesus dan Maria, dan ketentuan serta kesetiaan dalam menjalankan tugas kewajiban kami sehari-hari, khususnya dalam organisasi kami.

Selamatkanlah kami dari segala mara bahaya, dan dampingilah kami pada saat ajal kami, supaya kami dapat tiba di dalam Firdaus kebahagiaan abadi.

Di sanalah bersama dikau, kami akan memuji dan meluhurkan Allah.

Kepadamu juga, ya Ibu, kami mempercayakan suka dan duka rohani keluarga kami.

Tolonglah kami supaya bertumbuh subur dalam cinta kasih dan rela berkorban, agar selalu berkenan kepada Tuhan, Allah dan Bapa kami.

Amin

(Doa ini merupakan sumbangan Wanita Katolik RI Dewan Pimpinan Pusat th. 1993)

DOA ROSARIO SANTA ANNA :


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.