Wanita Katolik RI : Wadah Bagi Perempuan Katolik dalam Berorganisasi

25/04/2012

Selintas Perjuangan Panjang

Wanita Katolik Republik Indonesia terbentuk tgl.26 Juni 1924 di Yogyakarta atas prakarsa RA Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmosepoetro, didukung oleh Pastor Henri van Driessche, SJ. Kegiatan utamanya adalah mengajar membaca dan menulis serta berbagai ketrampilan kepada para ibu dan para buruh wanita. Awalnya bernama “Perkumpulan Ibu-ibu Katolik”. Perkumpulan ini mendapat sambutan baik dari para ibu katolik lainnya dan dari kalangan gereja, sehingga dapat berkembang pesat sampai kota Solo, kota-kota lain di Jawa, dan kemudian seiring dengan timbulnya kesadaran para ibu untuk membantu Gereja dan kaum lemah dan miskin, organisasi berkembang meluas ke seluruh pulau-pulau di Indonesia. Data terakhir, Wanita Katolik RI kini tercatat memiliki 72.479 anggota, terdiri dari 32 DPD, 585 Cabang, dan 1.954 Ranting (Laporan Konggres XVIII/2008).  Lewat perjuangan dan ketekunan para ibu, terutama para anggota di ranting-ranting yang menjadi ujung tombak, Wanita Katolik RI merupakan satu-satunya ormas  dari beberapa ormas Katolik (seperti PMKRI, Pemuda Katolik, ISKA, dll) yang kegiatannya tetap “heboh” karena terdengar sampai di paroki-paroki. (HIDUP, 8 Agustus 2010).

Di tingkat Cabang (kabupaten/kota/paroki) di Indonesia, Wanita Katolik RI menjadi   anggota GOW (Gabungan Organisasi Wanita) dan di tingkat propinsi menjadi anggota BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita). Di luar negeri Wanita Katolik RI pun tercatat sebagai anggota aktif WUCWO (World Union of Catholik Women’s Organisations) atau organisasi wanita katolik dunia. Wanita Katolik RI turut serta dalam Panitia HPS di KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), sehingga program kerja WKRI tentunya sejalan dengan Gereja. Disamping itu, sebagai ormas WKRI terdaftar dalam Badan KESBANGLINMAS (Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat) di tiap daerah dan sekaligus harus mengikuti perundangan ormas yang berlaku di Indonesia.  Status hukum WKRI adalah sebagai badan hukum yang disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. J.A.5/23/8 tanggal 5 Februari 1952. Bentuk : Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) sesuai ketentuan UU-RI no.8 th. 1985.  Sebagai ormas, Wanita Katolik RI juga mendapat pengakuan dari masyarakat sebagai ormas yang sangat bermanfaat keberadaannya, sejajar dengan ormas wanita lainnya seperti Kowani, Aisyah, Dharma Wanita, dll. (Jajak Pendapat Kompas/KOMPAS, 27 Feb 2012).

Wanita Katolik RI bukan organisasi politik, dan tidak pernah bergabung dengan Partai Katolik atau partai apapun, sejak berdiri sampai dengan saat ini. Dalam AD/ART Organisasi dinyatakan bahwa Visi Organisasi adalah organisasi kemasyarakatan wanita Katolik yang mandiri, memiliki kekuatan moral dan sosial yang handal, demi tercapainya kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat dan martabat manusia.  Implikasinya adalah organisasi harus terus  menegakkan dan menjaga kemandirian, agar terhindar dari hal-hal yang mungkin saja dapat melemahkan semangat perjuangan menuju cita-cita yang tertuang dalam visi tersebut  (KONTAK  Ed.13/Th IV/2012).

Perjalanan Wanita Katolik RI Ungaran

Wanita Katolik RI Ungaran dibentuk tgl.27 September 1964 oleh Ibu Corry Frederick dengan dukungan Ibu V. Sutandar dari DPP Wanita Katolik RI. Ibu-ibu yang ikut berjuang diantaranya Ibu Hien Darsono (alm), Ibu Any, Ibu Winarso, dll. Antara 1970an – 1982 Wanita Katolik RI tidak aktif, dan muncullah Persatuan Ibu-ibu Paroki Ungaran yang dirintis oleh Ibu Mardjuki dan diketuai oleh Ibu Ch. Suyati Suwardi. Tahun 1982 Ibu MS. Henny Sadewa merintis kembali Wanita Katolik RI di Ungaran dan melalui perjuangan yang panjang dan penuh rintangan, serta ketekunan dan dukungan luar biasa dari para anggota, kegiatan-kegiatan Wanita Katolik RI tetap dapat berjalan dengan baik. Saat ini anggota Wanita Katolik RI Ungaran yang mendaftar dan memiliki KTA (kartu tanda anggota) 357 orang. Sedangkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain : pertemuan rutin 1 bulan sekali,  kaderisasi, pelatihan dan pembekalan keorganisasian, pendidikan/ketrampilan, kerohanian (rekoleksi, renungan dari bacaan Kitab Suci, safari rosario, koor), kunjungan ke wilayah kerja, bakti sosial kepada masyarakat, simpan pinjam anggota, dll. Mulai th. 2008 dirintis pembuatan website WKRIUngaran, buletin BMW dan penggalangan Dana Abadi Ranting Ungaran.  Tahun 2010 menjadi titik balik eksistensi Wanita Katolik RI Ranting Ungaran. Dimulai dari penelusuran sejarah melalui diskusi dan kunjungan kepada sesepuh Wanita Katolik RI Ungaran, membedah visi misi organisasi dan pelatihan/pembekalan yang diikuti oleh perwakilan dari 21 wilayah kerja yang ada, hasil yang dicapai sungguh luar biasa. Anggota-anggota yang semakin memahami organisasi, memutuskan untuk mengembangkan Ranting Ungaran menjadi 2, yaitu Ranting (Kecamatan) Ungaran Barat dan Ranting (Kecamatan) Ungaran Timur. Hal ini sejalan dengan keputusan DPD (Dewan Pengurus Daerah) Jawa Tengah memakai jalur pemerintah pada th. 1993, yakni DPD Jawa Tengah (propinsi), DPC (cabang di kabupaten/kota) dan DPR (ranting di kecamatan). Cepat atau lambat, pengembangan ini harus dilakukan. Akhirnya, Rapat Anggota Ranting I tgl. 04 Desember 2011 mengukuhkan berdirinya kedua ranting baru tersebut.

WKRI dan Ibu-Ibu Paroki

Apa beda Wanita Katolik RI dan Paguyuban Ibu-ibu Lingkungan/Paroki?

Ibu-ibu paroki meliputi seluruh ibu-ibu/wanita dewasa yang berada dalam satu lingkup paroki tanpa terkecuali, sedangkan WKRI merupakan satu organisasi masyarakat yang menjadi wadah untuk para wanita katolik dewasa dengan ketentuan dan peraturan organisasi yang selain seturut dengan gereja, juga diatur oleh pemerintah dalam UU ormas. (Rm. HC Heru Purnomo, Pr – WARUNG SEGER 10/23 April/MMXII)

Ya!

Semua ibu-ibu di lingkungan yang ada di paroki – tanpa kecuali – adalah anggota Paguyuban Ibu-ibu Lingkungan/Paroki. Tidak perlu mendaftar. Keberadaan dan kegiatannya mengacu pada PPDP (Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki), dan mendukung visi/misi paroki.

Bagi ibu-ibu (tepatnya perempuan katolik berusia 18 tahun, baik sudah menikah atau masih lajang) yang ingin membaktikan diri dan membantu sesama (baik seiman maupun tidak) dan berkarya di masyarakat, sambil mengaktualisasi diri dalam organisasi, dapat mendaftar dan masuk menjadi anggota Wanita Katolik RI. Keberadaan dan acuannya adalah AD/ART Wanita Katolik RI, dengan juklak-juklaknya yang rinci, termasuk tata cara menjadi anggota, tertib administrasi, atribut organisasi (vandel, lencana, cap organisasi, pakaian seragam dan Kartu Tanda Anggota), pedoman pelaksanaan pertemuan anggota, dll. telah ada aturan dan ketentuan tersendiri yang ditetapkan organisasi.

Keberadaan Paguyuban Ibu-ibu Paroki dan ormas Wanita Katolik RI hendaknya dipelajari dan dipahami benar, sehingga tidak menimbulkan kerancuan. Keduanya dapat saling bekerja sama/kolaborasi dan saling melengkapi. Anggotanya bisa jadi orang yang sama, tetapi ’ladang garapan’ (kegiatan dan program kerja) berbeda. Contoh yang nyata, ibu-ibu lingkungan banyak yang juga aktif di PKK/RT, namun tetap dapat membedakan mana ranah lingkungan/paroki dan mana ranah PKK/RT/RW.

Wanita Katolik RI di DPD yang memakai jalur gerejani/keuskupan seperti DPD Purwokerto (di bawah Keuskupan Purwokerto), DPD Malang atau di Jakarta, memang sering rancu dan mungkin ada ’perebutan’ anggota atau kegiatan. Di Paroki Bojong, Jakarta Barat misalnya, Paguyuban Ibu-ibu Paroki tidak ada, karena WKRI rantingnya menjadi bagian dari tim kerja Paroki. Namun bagi yang memakai jalur pemerintahan seperti DPD Jawa Tengah, DIY atau Jawa Timur, seharusnya bisa serasi, dapat bekerjasama, karena jelas sekali adanya perbedaan acuan, visi misi dan program kerja. (wied yosef)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.