HAKEKAT IBU

Oleh :  Romo St.K. Suhartana, Pr

Edisi BMW kali ini mau mengangkat martabat ibu, berkaitan dengan hari ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember. Maklum, buletin ini milik Wanita Katolik RI yang berada di Paroki Kristus Raja Ungaran, dan semua anggotanya adalah ibu.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengajak para pembaca merenung berkaitan dengan keberadaan ibu. Wajar dan baik karena kita semua lahir dari seorang ibu. Ibu juga yang antara lain membesarkan, mendidik serta mendampingi kita semua dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup kita. Renungan ini tidak muluk-muluk, sederhana sekali tersaji untuk orang kebanyakan yang juga umumnya sederhana. Dikandung maksud untuk menggali, menemukan dan menghayati makna yang ada di dalamnya.

Sebutan ‘ibu’ di daerah kita ini saja banyak : ibu, mama, mami, mamak, embok, dan sebagainya. Maknanya terutama untuk orang-orang jawa (khususnya dulu walau dalam “kerata basa”) :

* Ibu = bisa kanggo bumbu (rempah-rempah) menambah rasa enak, nyaman, menambah semangat, lebih sehat, stamina segar dan sebagainya. Pertemuan-pertemuan tanpa ibu (ibu) kurang gayeng, piknik tanpa ibu-ibu menjadi mudah capek, dan sebagainya.

* Embok =  bisa kanggo tombok : melengkapi, menyempurnakan, memberi dan menambah kekuatan, memberi spirit, memberi dukungan moral, dan sebagainya.

Berangkat dari pengertian yang sangat sederhana (sepele, sempit/picik) ini saja kebanyakan orang sudah dapat menghayati makna yang ada di dalamnya. Sedangkan hakekat seorang ibu, kita bisa melihat pada diri Bunda Maria. Dia juga seorang ibu. Dia dipercaya oleh Tuhan Allah untuk memelihara kehidupan baru, mengembangkannya, mendampinginya sehingga membuahkan kehidupan yang sejati. Dan kehidupan yang sejati itu adalah kehidupan kekal. Kehidupan baru yang dipercayakan kepada Bunda Maria tadi ialah kanak-kanak Nazaret, yang tidak lain adalah Yesus sendiri. Dia menjadi “bumbu” bagi Yesus PuteraNya, Dia menjadi “tombok”an bagi Yesus, sehingga Yesus menjadi anak domba, yang mengorbankan seluruh hidupNya demi keselamatan seluruh umat manusia sekaligus merupakan kemuliaan Allah. Itulah mengapa sampai dikatakan bahwa surga berada “di telapak kaki ibu”.

Jaman begitu cepat berubah. Makna yang terkandung sebagaimana tersebut di atas sudah tidak menarik perhatian lagi. Yang dikejar-kejar selama ini adalah karir. Pada umumnya orang beranggapan bahwa karirlah yang memberi kepercayaan diri (pede); tanpa karir orang tidak bisa berprestasi, tanpa karir orang tidak pede. Tanpa karir tidak ada kesetaraan gender, merasa lebih rendah dari laki-laki, merasa kalah. Dengan demikian perhatian tersedot untuk diri sendiri, bukan demi pelayanan lagi. Yang penting jangan sampai dipandang remeh oleh pihak lain; singkat kata tidak mau kalah apalagi ngalah. Soal masak memasak (pekerjaan dapur) umpama saja (juga pekerjaan rumah tangga lainnya : “umbah-umbah” dsb) dipandang sebagai pekerjaan yang rendah, padahal memasak itu mempunyai makna yang bernilai tinggi/luhur yaitu dedikasi, semangat pelayanan, pertanda perhatian yang begitu besar terhadap seluruh keluarga. Perhatian ini tentu selanjutnya berkembang memperhatikan kebutuhan hidup  lain-lainnya yang menyangkut kehidupan seluruh keluarga kedepan. Ternyata dalam diri seorang ibu terdapat macam-macam “prisma” iman yang tidak ternilai harganya.

Kalau seorang Ibu masuk menjadi warga/anggota Wanita Katolik RI, moga-moga tidak bangga karena berorganisasi saja. Organisasi bukanlah tujuan; tujuan yang lebih penting justru pengembangan semangat pelayanan, pengembangan perhatian terhadap kehidupan.

Semoga renungan ini ada manfaatnya.

Berkah Dalem.

(BMW Ed.3 Vol.1 Des 2009)

2 Balasan ke HAKEKAT IBU

  1. Margaretha Eko Sri Windaryati mengatakan:

    Terima kasih Romo Hartono. Saya adalah ibu dari 3 orang anak. Membaca renungan tentang ibu, saya menyadari betul bahwa tugas seorang ibu itu banyak sekali. Selain menjadi ibu dari 3 orang anak saya juga ibu dari 1543 siswa di sekolah saya,sehingga ketika saya kemudian harus menghadiri juga arisan PKK, pertemuan WKRI, Darma Wanita, Lat koor, doa bersama, tennis, pelat bahasa Inggris, Work shop, seminar, MGMP, rapat staf, belum lagi mendampingi anak belajar, membuat persiapan untuk mengangajar, study lanjut dll, saya sedih apalagi jika ingat bahwa di rumah tugas utama seorang ibu belum selesai. Akan tetapi saya bersyukur Tuhan memberi kesempatan pada saya untuk bisa melakukan itu semua, bukan saya lebih mengutamakan karier akan tetapi dengan dukungan dari seluruh anggota keluarga semuanya dapat berjalan lancar. saya mohon maaf jika suatu saat terpaksa terlambat datang ke arisan PKK, pertemuan WK, lat Koor, itu semua karena saya harus memberesi dulu pekerjaan rumah tangga. Terima kasih Romo. Saya sekarang menyadari betul bahwa seorang ibu sangat dibutuhkan dalam sebuah keluarga.

  2. wkriungaran mengatakan:

    Ytks ibu Eko Sri Windaryati,
    Matur nuwun, bu, atas sharingnya.
    Komentar ibu akan kami teruskan pada penulis, yaitu Romo Suhartana, pr.

    Berkah Dalem,
    WKRI Ungaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: