IBU DAN BUDAYA NILAI

Dalam rangka memperingati hari ulangtahunnya yang ke-86 tahun 2010 ini, Wanita Katolik RI  mengusung suatu gerakan yang dikenal dengan Gerakan (melestarikan) Budaya Nilai dan Lingkungan Hidup. Gerakan ini dilandasi oleh keprihatinan terhadap krisis multidimensi dalam berbangsa dan bernegara di segala bidang, termasuk diantaranya dalam bidang moral, pendidikan, budaya dan agama serta lingkungan hidup.

Yang ingin dibahas di sini secara khusus adalah Budaya Nilai. Namun, apakah yang dimaksud dengan Budaya Nilai? Nilai mana yang dimaksud? Agak sulit mendefinisikan, tetapi mungkin penjelasan sederhananya yaitu moralitas yang baik sesuai dengan iman kristiani kita: kasih. Nilai inilah yang akan dikembangkan dan dilestarikan, sebagai langkah awal untuk melakukan perbaikan dalam karakter generasi muda, remaja dan anak-anak.

Meski pendidikan merupakan tanggung jawab orangtua, namun tidak bisa dipungkiri bahwa peran dan kasih seorang ibu menjadi lebih nyata dan amat berpengaruh dalam diri seorang anak. Dasar kepribadian anak dibentuk dalam sekolah kehidupan awal : yaitu ibu dan keluarga sebagai lingkungan pertama. Mendidik dengan baik anak-anak dalam keluarga kita sekarang ini, berarti kita mempersiapkan generasi pemimpin bangsa 30 – 40 tahun mendatang. Jadi jelas sekali bahwa peran strategis dalam melestarikan nilai-nilai yang baik, benar dan indah ada di dalam keluarga, khususnya kaum perempuan.

Jepang pernah hancur, baik secara fisik maupun mental. Rakyat Jepang berduka. Dalam gerakan yang kemudian dikenal sebagai (gerakan) ‘pendidikan mama’, para wanita Jepang, yang terkenal sebagai pekerja keras, ulet, setia, mengabdi pada keluarga, tampil. Mereka mendidik dengan baik anak-anak mereka. Dan dalam kurun waktu 20 tahun berikutnya, Jepang menjadi negara yang luar biasa maju di hampir segala bidang, dan memiliki generasi yang berkualitas unggul : pekerja keras, ulet, jujur, loyal, sportif dan berdedikasi tinggi.

Seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan termasuk anak bodoh di sekolahnya, pada suatu hari pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya membaca kertas tersebut: “Tommy, anak Ibu, sangat bodoh. Kami minta Ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah kami.” Sang ibu terhenyak membaca surat itu, namun ia segera membuat tekad yang teguh. “Anak saya Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.” Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang sebagai salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju. Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah itu akhirnya bisa menjadi seorang jenius? Siapa yang ada di balik semua ini? Jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja, dan terbukti ia memang benar.

Contoh lain yang bisa dikemukakan dalam kaitannya dengan peran seorang ibu adalah kasih Woo Kap Sun, ibu dari Hee Ah Lee – seorang pemain piano empat jari dari Korea, yang juga menderita cacat dan terbelakang mental. Dengan kasih sayang, kesabaran dan ketekunan, Woo Kap Sun melatih, mendidik, memotivasi dan menemani Ah Lee selama 10 jam latihan piano setiap hari. Kini Ah Lee menjadi suatu legenda, dan berhasil membuktikan bahwa apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang cacat ternyata mampu dilakukannya. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang : apa yang tidak mungkin di mata manusia, ternyata mungkin di mata Tuhan. Di balik semua ini, peranan Woo Kap Sun tidak dapat dikesampingkan. Kasih seorang ibu adalah pilar keberhasilan anaknya.

Dalam Kitab Suci, peran ibu ditunjukkan antara lain oleh teladan dan kasih Bunda Maria, yang sangat sentral dan total dalam mendampingi Putranya, Yesus Kristus. Kepasrahan dan imannya dalam menerima kenyataan dirinya mengandung saat belum bersuami (“terjadilah kepadaku menurut kehendakMu”) merupakan juga perkataan iman Yesus saat berada dalam keputusan penting di Taman Getzemani (“bukan kehendakKu, melainkan kehendakMu”).

Makin terlihat sangat jelas bahwa teladan, iman dan kasih seorang ibu akan tertanam menjadi sebuah karakter dan sikap mental dalam diri anak. Sikap atau nilai yang tertanam ini akan terus terbawa hingga dia menjadi dewasa. Kiranya dapat dipahami jika sisi penting peran kaum ibu ini dijadikan Wanita Katolik RI sebagai sebuah gerakan bersama-sama, yang akan merupakan suatu kekuatan moral yang luar biasa dan yang diharapkan perlahan namun pasti dapat mengubah moral bangsa menjadi lebih baik. Jika setiap ibu menemani putera puterinya dengan sabar, tekun dan penuh kasih, berkomunikasi dengan baik, kiranya dalam kurun waktu sekian tahun mendatang akan tercipta generasi yang tekun, disiplin, jujur, penuh iman dan kasih. Tentu ini tidak mudah. Mungkin juga akan ada banyak kendala dan hambatan yang timbul. Namun juga bukan hal yang tidak mungkin dilakukan.

Wanita Katolik RI sebagai kelompok minoritas yang kreatif, dengan nilai kasih yang berkualitas, memulai suatu gerakan bersama yang diharapkan akan menjadi suatu gerakan nyata. Mulai dari yang terdekat : keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitar. Gerakan yang bagai setetes air ini niscaya semakin lama akan membentuk lautan kasih yang dapat memiliki kekuatan luar biasa. (wied yosef, dari berbagai sumber)

2 Balasan ke IBU DAN BUDAYA NILAI

  1. retty mengatakan:

    mohon ijin di copy paste bu… terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: