Wajah WKRI …

Rm. HC Heru Purnomo, Pr

Ada yang istimewa pada pertemuan anggota ranting Ungaran tgl.9 April 2013 yang lalu. Istimewa karena Rm HC Heru Purnomo, Pr memberi penyegaran dan penguatan (semangat) pada para anggota, yang agak  “nglokro” (patah semangat) karena banyaknya situasi yang terjadi di Paroki Ungaran akhir-akhir ini. Rm Heru membuka dengan membacakan pesan Bapa Paus Fransiskus tentang peranan perempuan dalam Gereja Katolik (selengkapnya baca disini). Sungguh, pesan Bapa Paus itu merupakan suatu hal yang amat membesarkan hati.

Bagaimana dengan wajah perempuan sekarang ini? Bagaimana dengan Wanita Katolik RI sekarang ini? Kilas balik, di th 70-an, kegiatan dalam pertemuan adalah pembicaraan seputar caos dhahar romo, baju liturgi, menata altar gereja, arisan dan simpan pinjam.  Jika sampai saat ini, 40-an tahun kemudian, para anggotanya masih berputar di masalah-masalah di atas, berarti tidak ada kemajuan sama sekali. Sejarah awal pembentukannya,  antara lain mengajar perempuan menjadi lebih pintar (menulis/membaca), menyadari peran dan fungsi diri (tidak sekedar berada di 3 tempat : pawon, pengaron dan peturon)  dan peduli dengan nasib kaumnya. Ketika menjadi institusi besar, keanggotaan makin besar, organisasi mengukuhkan diri sebagai ormas : organisasi kemasyarakatan, seharusnya juga diimbangi dengan bentuk kegiatan keluar. Acuannya begitu jelas : berazas Pancasila dan pembukaan UUD ’45 dan berlandaskan Ajaran Sosial Gereja. Maka perlu perwujudan visi misi dalam karya nyata.

Perwujudan itu bisa ke dalam (pemberdayaan anggota, pelatihan, pembekalan organisasi, kaderisasi, dll.) dan bisa ke luar melalui kemitraan dan berjejaring dengan institusi lain, kegiatan kemasyarakatan dan peduli lingkungan seperti ikut mengatasi gizi buruk, PPUK, napza, pendidikan anak jalanan, penyuluhan dan pencerdasan, kesehatan masyarakat, dll. Nilai injili mewarnai kegiatan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan tersebut : jadilah terang dan garam dunia melalui sikap, perkataan dan perilaku.

Mengapa Wanita Katolik RI tetap eksis?  Karena kepedulian yang konsisten terhadap kaum tertindas, dengan pelayanan yang berlandaskan  kasih tanpa pamrih.

Pertanyaan yang menggelitik adalah : benarkah Wanita Katolik RI adalah organisasi kaum senior (kalau tak mau dibilang tua)?  AD/ART menyatakan bahwa anggota berusia 18 tahun atau lebih. Kenyataannya, khususnya di Jawa Tengah, banyak yang baru masuk menjadi anggota organisasi setelah berusia 40th. Apakah sudah ada sosialisasi? Sudahkah memanggil dan mengundang wanita muda untuk menempa dan mengembangkan diri melalui organisasi ini? Apa yang bisa dilakukan,,,,, sementara kita semua tahu bahwa generasi berikut ditentukan oleh kualitas kaum perempuan? Sungguh, pertanyaan yang tak mudah dijawab. Persoalan yang tak mudah diurai. (wied yosef)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: